“Memang ada yang mau?” tanya anak bungsu saya, 11 tahun, ketika datang undangan lomba karaoke dari RW. He he … tentulah dia membayangkan tidak ada yang mau ikut karena dia tidak pernah berkaraoke. Dia pun tidak pernah mendengar kedua kakaknya hangout ke tempat karaoke.
Nantilah kita lihat apakah memang kami yang tidak suka berkaraoke, atau memang lomba ini ditujukan untuk para bapak dan ibu.
Terkadang lomba-lomba di lingkungan kami memang template. Saya cukup prihatin kalau ada lomba mewarnai untuk anak. Tidak fair. Bagaimana untuk anak buta warna? Bagaimana untuk yang motorik halusnya buruk? Di samping itu, ekspresi seni anak adalah pada bentuk, bukan warna. Kalaupun diajak menjadi juri lomba gambar, saya merasa kesulitan menanamkan kepada juri lain agar tidak terjebak pada gambar yang diwarnai penuh.
Tapi kan jadi aneh kalau kita keukeuh pada pendapat sendiri, padahal itu yang benar (Silakan buka http://www.d.umn.edu/~jbrutger/Lowenf.html).
Untunglah tahun ini lomba 17-an jatuh di bulan puasa, jadi tidak perlu deh ada konflik semacam itu.
Kembali ke lomba karaoke. Meskipun panitia tampaknya ingin membuat lomba untuk circle mereka, tapi mereka cukup profesional dalam mengajukan proposal. Ada tata tertib, ada ketentuan penilaian, ketentuan peserta.
Apa yang kita lakukan menggambarkan siapa diri kita, kan.
0 Responses to “Lomba Karaoke”