31
May
09

Hotspot

Mungkin karena saya pendiam (ehm), dulu sulit sekali mengajak saudara datang ke rumah kami. Apalagi saudara-saudara suami saya yang cenderung nyablak.

Sekarang, tidak lagi. Justru kecenderungan saya yang tidak banyak bicara itu menguntungkan buat mereka. Ya, di rumah kami, mereka bebas memakai internet. 24 jam, di ruang mana saja, dengan laptop sendiri atau hp, tanpa gangguan. Artinya, tanpa perlu basa-basi dengan pemilik rumah.  

Gimana nggak? Hotspot plus hidangan ala kadarnya olahan Bibi plus kebebasan, kecuali soal shalat….. 

Saya cukup bangga bahwa kami pakai internet hasil swadaya sendiri. Daya pancar hotspot di rumah kami sampai ke kebonan sebarang (asal tidak malu sama laptop, boleh aja surfing di bawah pohon pepaya).

Ada seorang warga yang hobi ngulik jaringan, dan dialah yang mengusahakan terbukanya arus informasi ke rumah-rumah di RT kami. Penyediaan internet ini cukup terganggu ketika masuk provider TV kabel dengan harga lebih murah. Banyak tetangga yang beralih ke sana, tapi saya tidak tergiur.  Buat saya, dengan berlangganan internet pada provider besar, kita menghancurkan sebuah kekuatan yang sedang kita rintis. Cerita raksasa menghancurkan liliput dalam dunia bisnis sudah biasa, kan. Apakah kita akan ikut dalam arus itu? 

Apalagi selisih biaya antara provider raksasa dan RT tidak berarti, jika dibandingkan dengan pembelajaran yang didapat dari membangun kekuatan RT-RW-net. Setidaknya saya bisa menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa sebuah usaha dan dedikasi akan menghasilkan karya besar, sekalipun hanya sebatas di lingkungan RT.

Jadi dalam diam saya bekerja. Saya memberi kesempatan kepada tamu untuk menikmati hotspot kami; saya mendukung sebuah upaya yang hampir tergilas kekuatan besar; saya memberi contoh kepada anak-anak saya tentang bagaimana memenuhi kebutuhan dengan tangan sendiri.

Hidup Buerte! Eh, kok narsis. Wakakakak.


0 Responses to “Hotspot”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Categories

Archives

Blog Stats

  • 226 hits

Top Posts