Hobi saya ”beres-beres”. Awal Januari lalu saya membubarkan koperasi. Dulu koperasi ini dibentuk pengurus RT lama agar ada dana bergulir di masyarakat. Yang mengusulkan, seorang ibu yang aktif di kelurahan. Mungkin ada motivasi di balik itu. Mungkiiiin lho, kita tidak boleh suuzon kan. Jadi mungkin kalau koperasi RT ini aktif, maka akan turun dana pinjaman buat koperasi RT.
Waktu itu saya berpikir, apa iya warga RT mau meminjam sejumlah uang yang kalau dibawa belanja bulanan juga habis ludes. He he ini kenyataan, namanya juga ibu-ibu. Addaaa saja yang terasa perlu untuk dibeli. Nah, sementara itu peminjam harus mencicilnya selama sepuluh bulan. Nggak lucu kan kalau arisan jadi terbebani melunasi pinjaman yang entah sudah ke laut mana. Kenyataannya, banyak peminjam yang jadi tidak hadir di arisan.
Kini sudah dua bulan lewat dari deadline pembayaran pinjaman koperasi, masih ada saja yang belum melunasi tunggakan. Ada yang datang ke bendahara dan menyatakan minta waktu. Ada juga yang (katanya) melengos kalau ketemu bendahara. Ada yang jadi bahan gunjingan ibu-ibu, karena ibu itu belum sepeser pun membayar cicilan koperasi, padahal di garasinya bertengger dua mobil.
Nah, ini mudaratnya koperasi. Tujuan silaturahmi RT jadi rusak, kalau sudah ada faktor keuangan. Jadi tidak salah kan kalau saya bubarkan saja tuh koperasi.
Bahkan saya juga akan membubarkan arisan … pokoknya segala hal yang ada hubungannya sama uang deh. Sebagai gantinya, saya akan bikin pengajian atau kegiatan yang diinginkan para ibu. Misalnya, belajar membuat kue dari yang warga yang ahli masak.
Ya, seharusnya RT bisa dijadikan pendidikan berbasis masyarakat, bukan pergunjingan berbasis perduitan:)
0 Responses to “Bu RT beres-beres”