13
Mar
08

Dicari: RT Baru

Sudah 10 hari lalu saya berniat membuat undangan arisan “ibu-ibu RT”, tapi tidak pernah saya wujudkan. Niat itu terus bertengger di “Things to do today”, untuk kemudian digeser ke hari berikutnya dan berikutnya, sampai-sampai sekarang hanya H-3. Saya sebetulnya tidak suka dengan sesuatu yang mendadak, tapi kali ini saya melakukannya. Rasanya berat sekali melakukan hal itu, sekalipun prosedurnya mudah. Cuma membuka folder “RT” dan mengklik file undangan, mengubah tanggal, mencetak, mengirim ke bendahara. Tapi pekerjaan semudah itu selalu saya jadikan prioritas terakhir di setumpuk tugas –yang saya anggap lebih genting.

Dan kini saya merasa jenuuuh sekali. Saya berpikir, ya buat apalah saya mendahulukan pekerjaan itu kalau kemudian orang juga tak peduli. Yang datang juga cuma itu-itu lagi, sementara yang lain hanya akan membaca sekilas undangan itu untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Memang sih mereka yang tak peduli pada arisan RT tidak salah. Sebuah keakraban adalah proses alami, tercipta karena ada kecocokan, kebutuhan dan mutual trust kedua belah pihak. Jadi, wajarlah, bila hubungan antartetangga tidak dekat. Belum tentu ada kecocokan, kebutuhan dan mutual trust, antara keduanya, bukan? Hanya karena nasib saja mereka menjadi berdekatan secara fisik.

Jadi buat apa ya ada “rukun tetangga”? Apanya yang rukun? Saya pikir, itu upaya pemerintah saja agar kegiatan politik mereka berjalan dalam situasi damai. Adakah yang sadar akan hal ini?

Atau, yang lebih mudah adalah: adakah yang dapat menolong saya? Menggantikan posisi suami saya sebagai RT?


0 Responses to “Dicari: RT Baru”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Categories

Archives

Blog Stats

  • 232 hits

Top Posts

  • None