14
Jan
08

Inem ergo sum

Nama saya Inem Maridjan, pekerjaan saya mendongeng. Dengan atribut itu saya merasa diri saya ada. Kalau saya dipanggil Inul, maka itu bukan saya, karena kinesitas tubuh saya tidak lentur untuk bergoyang, apalagi ngebor. Soal Maridjan, kebetulan saja nama ayah saya sama dengan jurukunci Gunung Merapi itu. Tapi ayah saya santri pol, jadi tidak percaya pada hal-hal seperti itu.

Jadi eksistensi saya ya yang saya sebutkan di atas. Inem binti Maridjan, yang sukanya nulis cerita dan ndongeng di depan anak-anak.

Beruntung saya dapat suami yang sepaham. Dia bilang saya tidak perlu menambahkan Paridjo di belakang nama saya. Pertama, karena di agama kami nama yang nempel di nama anak perempuan itu ya binti. Kedua, kalau terjadi apa-apa di antara kami, saya tidak perlu berganti-ganti nama dari Inem Paridjo menjadi Inem Costner, lalu Inem Gere, lalu Inem Gore, lalu balik jadi Inem Maridjan lagi.

Tapi waktu tinggal di RT 001 RW 01 Kelurahan MekarWangi ini, saya dipanggil Bu Paridjo. Lebih parah lagi yang sekarang: Buerte. Walah … eksistensi Inem hilang!

Waktu arisan ibu-ibu yang pertama setelah saya jadi Buerte, saya bilang ke hadirin bahwa sebetulnya nama saya Inem, bukan Bu Paridjo. Saya ceritakan juga guyonan soal Costner, Gere dan Gore kalau nempel di belakang nama saya. Wah, ternyata ibu-ibu seneng …. Mereka pun minta dipanggil namanya sendiri. Ada Dewita, ada Sofia, ada … pokoknya hari ini di daftar hadir muncul 37 orang yang merasa eksistensi dirinya muncul.

Catatan: Inem ergo sum (saya Inem karena itu saya ada) adalah pelesetan dari ungkapan eksistensialisme Descartes, cogito ergo sum (saya berpikir karena itu saya ada).


0 Responses to “Inem ergo sum”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Categories

Archives

Blog Stats

  • 226 hits

Top Posts