06
Jan
08

Bu Timbul

Keluarga Bu Timbul dianggap paling tak berdaya di lingkungan kami. Suaminya sudah pensiun, dan sekarang menjadi penagih iuran warga di lingkungan RT kami. Konon, Bu Timbul melarang Pak Timbul menjadi satpam di RT kami. Maka Pak Timbul pun bekerja sebagai satpam di RT sebelah. Entah kenapa.

Secara sosial Bu Timbul terlihat tidak berdaya, tapi secara politik punya kekuatan besar. Ya, Bu Timbul adalah silent politician. Selama bertahun-tahun dia menjadi pengurus PKK. Tak tergantikan. Bu Timbul tidak sepenuhnya salah, karena iklim mendukung dia tetap di sana. Mungkin ibu lain memang males berhubungan dengan kelurahan, mungkin juga mereka menganggap PKK gak penting, mungkin juga karena memang tidak ada sosialiasi tentang fungsi PKK.

Kedudukan Bu Timbul makin kuat, karena mendapat restu dari istri RW, yang tidak mau pusing dengan urusan PKK –karena sudah sibuk dengan warung dan kantornya. Bu RW menyerahkan segala urusan PKK kepada Bu Timbul, termasuk juga ‘mengutus” Bu Timbul untuk mewakili dirinya pada arisan RW. Royalti untuk Bu Timbul berupa perolehan uang arisan. Artinya, bila setelah dikocok keluar nama Bu RW, maka itu akan menjadi milik Bu Timbul.

Yah mungkin Bu RW bertujuan amal. Tapi dia tak sadar telah membuka peluang bagi Bu Timbul untuk membenarkan langkah-langkahnya.

Bu dan Pak Timbul bisa membuatkan kartu keluarga untuk warga tanpa melalui RT. Soal laporan tentang kegiatan dan keuangan PKK, ke laut aja deh.

Yang lucu, suatu malam, di acara arisan gabungan bapak-bapak dan ibu-ibu, Bu Timbul dengan santai mengumumkan siapa saja penerima bantuan gas dan kompor dari pemerintah. Ada empat nama yang disebut, dan dua di antaranya adalah dia dan anaknya yang tinggal di rumahnya. Mungkin saat itu banyak yang bertanya mengapa Bu Timbul mendapat dua gas, tapi pertanyaan itu ditelan bersama dengan kunyahan sus dan lemper yang disajikan tuan rumah. Kalau nyangkut di kerongkongan, ya langsung didorong dengan teh manis.

Yah, tentu tak pantaslah mempertanyakan jatah warga yang kehidupannya” kurang beruntung”. Apalagi menghadapi Bu Timbul, seorang senior PKK.

Demi harmonisasi warga, maka orang menutup mata bila ada penyimpangan. Kalau kita mencoba menggugat, maka kita akan dianggap aneh.


0 Responses to “Bu Timbul”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Categories

Archives

Blog Stats

  • 226 hits

Top Posts