25
Dec
07

Bu RT tanpa Wajah dan Suara

Istri walikota tidak dipanggil bu walikota, istri gubernur tidak menjadi bu gubernur. Tapi istri RW, jadi Bu RW, dan istri RT jadi Bu RT. Apakah pada pada lembaga pemerintahan terendah perempuan menjadi faceless, tidak bereksistensi dan impersonal? Wallahualam … Sebutan itu tidak hanya berupa kata sapaan yang sudah turun temurun melekat di batang pohon tanjung dan menyatu dengan debu jalanan, tapi juga dikukuhkan secara formal. Seorang istri RT otomotatis adalah ketua PKK di kampungnya.

Sekalipun pemilihan RT masa kini sudah demokratis, tidak begitu halnya dengan organisasi ikutannya, PKK. Untuk organisasi yang terkait dengan perempuan, maka demokratisasi ibarat Istana Negara yang dikurung oleh pagar-pagar yang tak dapat ditembus. O-em-ji (maksudnya, OMG, oh my God), perempuan ibarat rakyat kecil yang tak bisa masuk ke sana. Mereka harus cukup puas bila dibuatkan rumah di luar istana bernama PKK. Sebuah rumah yang tampak indah, tetapi sesungguhnya hampa karena aspirasi perempuan sebagai manusia yang berkehendak tidak menempel pada dinding-dindingnya. Sebuah rumah yang senyap abadi karena penghuninya tak bersuara. Sebuah rumah yang penghuninya harus menutup mata ketika dinding-dinding itu menjadi buram karena ada praktik yang tak transparan.

Mengenai hal ini … hmm … hingga detik ini saya tidak tahu jelas apakah PKK itu. Yang saya tahu, pada hari tertentu di pos RW ada penimbangan bayi. Saya sering bertanya apakah benar warga RT kami memanfaatkannya (sepertinya memang nggak deh, karena mereka rutin ke dokter anak). Apakah hal ini pernah dikaji? Apakah pemberdayaan kesehatan harus melalui program penimbangan bayi? Apakah tidak ada alternatif lain, misalnya membuat pelatihan mengenai kesehatan balita bagi para “mbak”, pengasuh bayi? Banyak ibu muda di RT kami yang bekerja, dan meninggalkan balita mereka pada pengasuh. Nah, saya pikir ini lebih tepat sasaran.

Ketika saya sampaikan hal itu kepada mantan istri RT yang “naik pangkat” menjadi Ketua PKK RW, dia mengatakan akan menjadikannya sebagai catatan untuk disampaikan pada rapat di kelurahan. Mudah-mudahan memang benar suara itu akan disampaikan dan didengar ….


1 Response to “Bu RT tanpa Wajah dan Suara”


  1. January 6, 2008 at 7:10 am

    budhe, kalo di tempatku sih, bu RT jauh lebih berkuasa dibanding pak RT.. :) posyandu sih ada, tapi ya kitu waee.. cuma nimbang ma ngukur ajah, bapi banyak juga bayi dan balita yang nangis sejerit-jeritnya. ayo Budhe, bikin terobosan perposyanduan… :D


Leave a Reply




Categories

Archives

Blog Stats

  • 226 hits

Top Posts