26
Nov
07

Selamat ya …

“Wah jadi RT, ngurusin orang berantem.”

“Rp20rb sekali tandatangan.”

“Hi hi hi.”

“Sekarang gajinya 300rb tuh.”

Komentar-komentar itu muncul ketika suami saya terpilih jadi RT. Komentar yang diucapkan dengan seringai, tawa, atau senyum lebar itu menunjukkan persepsi orang terhadap “jabatan RT”. Coba deh telaah satu per satu komentar di atas, semuanya bernada negatif. Pekerjaan menjadi RT mengandung makna komikal, terkait dengan masalah privat orang lain, dan terkait dengan uang.

Apa boleh buat, tetangga-tetangga sudah memilih, dan suami saya sudah setuju. Saya sih senang bercampur was-was. Saya senang melihat proses demokrasi sudah diupayakan terbentuk dari lembaga pemerintahan terendah. Sebelum pemilihan, ada tim pemilihan pengurus RT yang berkeliling membagikan lembar berisi nama warga yang berhak dipilih, lalu Kartu Suara (tepatnya kertas kecil sih) untuk mengisi nama tiga calon kepala RT. Karena di rumah kami ada tiga orang yang telah berumur di atas 17 tahun (saya, suami saya dan si sulung), kami mendapat tiga Kartu Suara.

Saat mengisi, saya mendiskusikan dengan suami, siapa kira-kira nama yang akan dipilih. Dalam pembicaraan itu tanpa sengaja muncul kriteria “matang”, “punya perhatian”, “punya waktu”. Ada nama yang memenuhi kriteria itu tapi tidak jadi kami tulis mengingat yang bersangkutan sering mules ketika menjadi pengurus RT. Begitu juga, saya urung menulis Pak TT yang murah senyum, karena selama jadi pengurus iuran sampah dia kerap stres kena semprot warga.

Oh ya si sulung tidak diajak diskusi karena dia selalu pergi pagi dan pulang malam selama Kartu Suara itu menginap dua malam di rumah.

Saya langsung mengisi ketiga Kartu Suara itu, karena tahu kebiasaan buruk saya: kalau sudah tertunda, kertas itu bisa tertumpuk di antara lautan berkas di rumah saya. Saya merasa plong dan merasa jadi warga RT yang baik ketika petugas datang, dan saya sudah siap.

Saya berniat datang di acara pemilihan ketua RT, yang berlangsung di lapangan badminton di depan rumah saya. Apa boleh buat, saya pulang malam sehabis suatu kegiatan. Lalu tertidur. Saat bangun, suami saya sudah mengabari bahwa dia yang terpilih (entah karena kriteria apa). Di meja makan saya lihat ada kue-kue, sisa hidangan pada saat pemilihan. Saya merasa malu, sungguh tidak mencerminkan warga yang baik. Mungkin para ibu pun sebal pada saya. Tapi karena suami saya satu paket dengan saya, ya terpaksalah mereka menerima keadaan.

Biarpun RT adalah jabatan ecek-ecek, tapi karena warga yang memilih, terasa jadi beban juga. Saya khawatir, jangan-jangan kami bukannya mengurusi warga yang berantem, tetapi wargalah pusing melihat anak-anak kami bertengkar. Yah, si sulung dan si tengah kami ibarat Tom dan Jerry, namun sayangnya pertengkaran mereka tidak lucu untuk ditonton.Beban yang lain, tidak bisa lagi jadi ratu bolos pada saat arisan ibu-ibu. Bukannya saya tidak suka arisan ibu-ibu, tapi Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga yang kerap menggeser acara arisan itu. Tapi jujur sih, kadang saya males aja.


0 Responses to “Selamat ya …”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Categories

Archives

Blog Stats

  • 226 hits

Top Posts