15
Jun
09

Seharian kemarin nguplek bikin kerajinan tangan dari daur ulang, gara-gara RW-nya masuk dalam tujuh besar lomba lingkungan sewilayah kota. Tapi di sore hari Bu RT sebel soalnya itu ternyata proyek anak Pak RW. Jadi anak Pak RW mengikutsertakan RW buat lomba, dan ternyata terpilih. Lalu diwawancaralah dia sebagai anak muda yang peduli lingkungan. Padahal dia tidak ikut berkeringat membuat lobang biopori, dan tidak pernah pula ikut kerja bakti. Phew ….

31
May
09

Hotspot

Mungkin karena saya pendiam (ehm), dulu sulit sekali mengajak saudara datang ke rumah kami. Apalagi saudara-saudara suami saya yang cenderung nyablak.

Sekarang, tidak lagi. Justru kecenderungan saya yang tidak banyak bicara itu menguntungkan buat mereka. Ya, di rumah kami, mereka bebas memakai internet. 24 jam, di ruang mana saja, dengan laptop sendiri atau hp, tanpa gangguan. Artinya, tanpa perlu basa-basi dengan pemilik rumah.  

Gimana nggak? Hotspot plus hidangan ala kadarnya olahan Bibi plus kebebasan, kecuali soal shalat….. 

Saya cukup bangga bahwa kami pakai internet hasil swadaya sendiri. Daya pancar hotspot di rumah kami sampai ke kebonan sebarang (asal tidak malu sama laptop, boleh aja surfing di bawah pohon pepaya).

Ada seorang warga yang hobi ngulik jaringan, dan dialah yang mengusahakan terbukanya arus informasi ke rumah-rumah di RT kami. Penyediaan internet ini cukup terganggu ketika masuk provider TV kabel dengan harga lebih murah. Banyak tetangga yang beralih ke sana, tapi saya tidak tergiur.  Buat saya, dengan berlangganan internet pada provider besar, kita menghancurkan sebuah kekuatan yang sedang kita rintis. Cerita raksasa menghancurkan liliput dalam dunia bisnis sudah biasa, kan. Apakah kita akan ikut dalam arus itu? 

Apalagi selisih biaya antara provider raksasa dan RT tidak berarti, jika dibandingkan dengan pembelajaran yang didapat dari membangun kekuatan RT-RW-net. Setidaknya saya bisa menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa sebuah usaha dan dedikasi akan menghasilkan karya besar, sekalipun hanya sebatas di lingkungan RT.

Jadi dalam diam saya bekerja. Saya memberi kesempatan kepada tamu untuk menikmati hotspot kami; saya mendukung sebuah upaya yang hampir tergilas kekuatan besar; saya memberi contoh kepada anak-anak saya tentang bagaimana memenuhi kebutuhan dengan tangan sendiri.

Hidup Buerte! Eh, kok narsis. Wakakakak.

31
May
09

Lomba Karaoke

“Memang ada yang mau?” tanya anak bungsu saya, 11 tahun, ketika datang undangan lomba karaoke dari RW. He he … tentulah dia membayangkan tidak ada yang mau ikut karena dia tidak pernah berkaraoke. Dia pun tidak pernah mendengar kedua kakaknya hangout ke tempat karaoke. 

Nantilah kita lihat apakah memang kami yang tidak suka berkaraoke, atau memang lomba ini ditujukan untuk para bapak dan ibu.

Terkadang lomba-lomba di lingkungan kami memang template. Saya cukup prihatin kalau ada lomba mewarnai untuk anak. Tidak fair. Bagaimana untuk anak buta warna? Bagaimana untuk yang motorik halusnya buruk? Di samping itu, ekspresi seni anak adalah pada bentuk, bukan warna.  Kalaupun diajak menjadi juri lomba gambar, saya merasa kesulitan menanamkan kepada juri lain agar tidak terjebak pada gambar yang diwarnai penuh. 

Tapi kan jadi aneh kalau kita keukeuh pada pendapat sendiri, padahal itu yang benar (Silakan buka http://www.d.umn.edu/~jbrutger/Lowenf.html). 

Untunglah tahun ini lomba 17-an jatuh di bulan puasa,  jadi tidak perlu deh ada konflik semacam itu. 

Kembali ke lomba karaoke. Meskipun panitia tampaknya ingin membuat lomba untuk circle mereka, tapi mereka cukup profesional dalam mengajukan proposal. Ada tata tertib, ada ketentuan penilaian, ketentuan peserta. 

Apa yang kita lakukan menggambarkan siapa diri kita, kan.

31
May
09

Bu RT beres-beres

Hobi saya  ”beres-beres”. Awal Januari lalu saya membubarkan koperasi.  Dulu koperasi ini dibentuk pengurus RT lama agar ada dana bergulir di masyarakat. Yang mengusulkan, seorang ibu yang aktif di kelurahan. Mungkin ada motivasi di balik itu. Mungkiiiin lho, kita tidak boleh suuzon kan. Jadi mungkin kalau koperasi RT ini aktif, maka akan turun dana pinjaman buat koperasi RT.

Waktu itu saya berpikir, apa iya warga RT mau meminjam sejumlah uang yang kalau dibawa belanja bulanan juga habis ludes. He he ini kenyataan, namanya juga ibu-ibu. Addaaa saja yang terasa perlu untuk dibeli. Nah, sementara itu peminjam harus mencicilnya selama sepuluh bulan. Nggak lucu kan kalau arisan jadi terbebani melunasi pinjaman yang entah sudah ke laut mana. Kenyataannya, banyak peminjam yang jadi tidak hadir di arisan.

Kini sudah dua bulan lewat dari deadline pembayaran pinjaman koperasi, masih ada saja yang belum melunasi tunggakan. Ada yang datang ke bendahara dan menyatakan minta waktu. Ada juga yang (katanya) melengos kalau ketemu bendahara. Ada yang jadi bahan gunjingan ibu-ibu, karena ibu itu belum sepeser pun membayar cicilan koperasi, padahal di garasinya bertengger dua mobil.

Nah, ini mudaratnya koperasi. Tujuan silaturahmi RT jadi rusak, kalau sudah ada faktor keuangan. Jadi tidak salah kan kalau saya bubarkan saja tuh koperasi.

Bahkan saya juga akan membubarkan arisan … pokoknya segala hal yang ada hubungannya sama uang deh. Sebagai gantinya, saya akan bikin pengajian atau kegiatan yang diinginkan para ibu. Misalnya, belajar membuat kue dari yang warga yang ahli masak.

Ya, seharusnya RT bisa dijadikan pendidikan berbasis masyarakat,  bukan pergunjingan berbasis perduitan:)

31
May
09

Buerte Kurang Tantangan

Setelah 1,5 tahun menjadi Buerte, saya merasa kurang tantangan. Dulu saya pikir paling tidak sebulan sekali ada sesuatu yang bisa ditulis, jadinya setelah tiga tahun ada 150-an cerita. 

Tapi ternyata tantangan yang diharapkan tidak ada. Pasalnya, sikap saya sendiri yang membuat begitu.

Karena dari awal saya males dengan segala sesuatu yang berbau PKK, akhirnya saya memang tidak pernah dilibatkan. Di satu sisi menguntungkan, karena saya terbebas dari dosa melakukan seuatu tanpa keikhlasan; di sisi lain, tidak ada hal seru untuk ditulis.

24
May
09

Bu RT vs Motor

Bangun tidur, badan masih pegel-pegel, Pak RT kasih tahu bahwa hari ini adalah jadwal jalan pagi. Wadow, serasa dapat beban seberat kasur pegas. 

“Nggak apa-apa, saya deh yang beli makanan,” katanya. 

Hmm, bukan soal itu. Soal menyediakan makanan sih keciiiiil ….. (he he karena ada Bibi tercinta), tapi yang bikin males itu rumah kami yang berantakan, terutama di garasi.

Di garasi ada empat motor, plus oli yang brecetan, plus spare parts yang bertebaran, plus apa lagi nggak tahu deh …. Pokoknya kayak bengkel yang bisa bongkar nggak terima pasang.

Yah itulah nasib motor-motor di rumah kami. Yang satu dibeli karena obsesi Pak RT, yang satu lagi karena itu motor dem-deman waktu masih muda, yang satu lagi, yang satu lagi …. Wuiiiih … semuanya bergantung dari masa lalu. Bahkan yang tanpa surat-surat pun dibeli. Bernomor polisi E, dan dikirim dari Bandung pulak. Ada juga yang tadinya niat beli sepeda, eh akhirnya beli motor, karena motor lebih murah.

Hadowww … alhasil sekalipun motor kami ada empat, harganya masih lebih murah dibanding satu motor baru.  

Yang lebih parah, garasi ini jadi rungsek, dan akhirnya saya maluuuu kalau kami ada acara kumpul-kumpul RT.

20
May
09

Kalau Pak RT Pindah Rumah

Karena merasa rumah yang kami tempati sudah tidak layak huni, suami saya mengajak kami pindah. Tidak jauh-jauh, hanya di gang lain. Rumah yang kami tempati sekarang ini memang sudah amburadul deh. Buku-buku menggunung, yang rasanya sayang untuk dibuang, membuat pemandangan sungguh tidak sedap. Kalau malam, gigitan nyamuk sudah tidak terasa lagi karena kulit kami sudah terlalu kebal …. Apalagi bangunan rumah kami memang jadi error setelah suami saya coba-coba jadi arsitek :)

Pokoknya, ada 1001 alasan untuk pindah rumah, deh. Apalagi memang ada rumah penampungan buat kami.

Masalahnya, kami akan berpindah RT, sementara di rumah lama, suami saya adalah Ketua RT.  Tentu dwooong saya bersorak seandainya memang suami saya harus meletakkan jabatan (kayak apaan aja). Sayangnya, tidak seorang pun bersedia menggantikan. Mereka bilang, tidak apa-apa pindah rumah, yang penting gentengnya masih kelihatan. He he …

Jadilah kami pindah rumah, dan tetap menjadi pengurus di RT lama. Saya pun tetap dengan pekerjaan menyebalkan yang tidak bisa ditinggalkan itu: mengurus arisan.  

Nah, di tempat baru, kami pun bergabung dengan kelompok RT baru. Berkaca dari pengalaman di RT lama, saya berusaha menjadi anggota yang baik. Datang ke arisan dan ke acara semacam akikah.  Untuk pertama kalinya saya merasa: menjadi warga lebih nyaman daripada jadi pengurus RT.

19
May
09

Undangan Arisan

Hari Minggu lalu, prestasi saya sebagai Buerte mendingan dikit deh. Hari Jumat saya sudah menyebarkan undangan arisan. Mestinya Kamis sudah bisa tersebar kalau saya tahu alamat lengkappemilik rumah (di kompleks kami alamat memakai blok-blok dan nama jalan, dan saya tidak hapal).  

Selama ini, undangan dikirim hari H-1 atau bahkan pas Hari-H. Bahkan pernah saya mengirim undangan via SMS waktu saya berada di Surabaya. Tentu tidak semua terundang, karena ada yang nomornya ganti, dan ada yang tak saya ketahui nomornya. Waktu saya kembali dari Surabaya, seorang ibu menyuruh saya minta maaf kepada pemilik rumah karena yang datang cuma delapan orang. Oke deh saya minta maaf. Habis gimana? Kakak saya meninggal tidak bilang-bilang dulu kepada saya. Jadi saya terbang ke Surabaya sebelum mengirim undangan arisan.

01
Apr
08

Buerte nganggur

Sudah tiga bulan, suami saya jadi RT, tapi belum sekalipun saya ikut kumpul-kumpul PKK. Undangan pertama datang di bulan Januari untuk acara pengajian. Karena undangan datang sehari atau dua hari sebelumnya, saya tidak bisa datang. Tapi saya masih berniat baik dengan menelepon kelurahan, lho.

Bulan itu juga ada undangan pertemuan Pokja (saya dimasukkan Bu RW ke Pokja –Kelompok Kerja– Pendidikan). Tapi ya gitu deh. Acara hari Senin pagi, undangan datang Sabtu sore. Hari Minggu malam saya ditelepon sama Ibu Anu yang konon punya jabatan di PKK Kelurahan. Dia tanya apakah saya bisa datang pada hari Senin pagi. Saya bilang minta maaf sambil bertanya apakah undangan bisa datang lebih awal, agar saya bisa menggeser kegiatan di Senin pagi. Ini jawabnya: “Kita nggak mendadak kok. Kita rapat Jumat sore dan memutuskan rapat Senin pagi ini.”

Gubrak!

13
Mar
08

Dicari: RT Baru

Sudah 10 hari lalu saya berniat membuat undangan arisan “ibu-ibu RT”, tapi tidak pernah saya wujudkan. Niat itu terus bertengger di “Things to do today”, untuk kemudian digeser ke hari berikutnya dan berikutnya, sampai-sampai sekarang hanya H-3. Saya sebetulnya tidak suka dengan sesuatu yang mendadak, tapi kali ini saya melakukannya. Rasanya berat sekali melakukan hal itu, sekalipun prosedurnya mudah. Cuma membuka folder “RT” dan mengklik file undangan, mengubah tanggal, mencetak, mengirim ke bendahara. Tapi pekerjaan semudah itu selalu saya jadikan prioritas terakhir di setumpuk tugas –yang saya anggap lebih genting.

Dan kini saya merasa jenuuuh sekali. Saya berpikir, ya buat apalah saya mendahulukan pekerjaan itu kalau kemudian orang juga tak peduli. Yang datang juga cuma itu-itu lagi, sementara yang lain hanya akan membaca sekilas undangan itu untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Memang sih mereka yang tak peduli pada arisan RT tidak salah. Sebuah keakraban adalah proses alami, tercipta karena ada kecocokan, kebutuhan dan mutual trust kedua belah pihak. Jadi, wajarlah, bila hubungan antartetangga tidak dekat. Belum tentu ada kecocokan, kebutuhan dan mutual trust, antara keduanya, bukan? Hanya karena nasib saja mereka menjadi berdekatan secara fisik.

Jadi buat apa ya ada “rukun tetangga”? Apanya yang rukun? Saya pikir, itu upaya pemerintah saja agar kegiatan politik mereka berjalan dalam situasi damai. Adakah yang sadar akan hal ini?

Atau, yang lebih mudah adalah: adakah yang dapat menolong saya? Menggantikan posisi suami saya sebagai RT?

14
Jan
08

Inem ergo sum

Nama saya Inem Maridjan, pekerjaan saya mendongeng. Dengan atribut itu saya merasa diri saya ada. Kalau saya dipanggil Inul, maka itu bukan saya, karena kinesitas tubuh saya tidak lentur untuk bergoyang, apalagi ngebor. Soal Maridjan, kebetulan saja nama ayah saya sama dengan jurukunci Gunung Merapi itu. Tapi ayah saya santri pol, jadi tidak percaya pada hal-hal seperti itu.

Jadi eksistensi saya ya yang saya sebutkan di atas. Inem binti Maridjan, yang sukanya nulis cerita dan ndongeng di depan anak-anak.

Beruntung saya dapat suami yang sepaham. Dia bilang saya tidak perlu menambahkan Paridjo di belakang nama saya. Pertama, karena di agama kami nama yang nempel di nama anak perempuan itu ya binti. Kedua, kalau terjadi apa-apa di antara kami, saya tidak perlu berganti-ganti nama dari Inem Paridjo menjadi Inem Costner, lalu Inem Gere, lalu Inem Gore, lalu balik jadi Inem Maridjan lagi.

Tapi waktu tinggal di RT 001 RW 01 Kelurahan MekarWangi ini, saya dipanggil Bu Paridjo. Lebih parah lagi yang sekarang: Buerte. Walah … eksistensi Inem hilang!

Waktu arisan ibu-ibu yang pertama setelah saya jadi Buerte, saya bilang ke hadirin bahwa sebetulnya nama saya Inem, bukan Bu Paridjo. Saya ceritakan juga guyonan soal Costner, Gere dan Gore kalau nempel di belakang nama saya. Wah, ternyata ibu-ibu seneng …. Mereka pun minta dipanggil namanya sendiri. Ada Dewita, ada Sofia, ada … pokoknya hari ini di daftar hadir muncul 37 orang yang merasa eksistensi dirinya muncul.

Catatan: Inem ergo sum (saya Inem karena itu saya ada) adalah pelesetan dari ungkapan eksistensialisme Descartes, cogito ergo sum (saya berpikir karena itu saya ada).

07
Jan
08

Belajar tata negara dari lingkup terdekat

Dua kali dalam setahun, HSLDA (Homeschool Legal Defense Association) membuka kelas Constitutional Law, yang merupakan upaya untuk pembelajaran sejarah dan latar belakang sistem perundang-undangan AS bagi siswa homeschool.

Di Indonesia belum ada lembaga hukum yang melakukan hal itu, tapi kita bisa melakukannya sendiri di lingkup yang terdekat: Lingkungan RT. Kita bisa membuat kelas kecil yang menugasi anak mendatangi Ketua RT untuk menanyakan tugasnya, jumlah warga di wilayah teritorialnya, masa jabatannya, dan adakah sistem hukum yang mendasari organisasi RT. Dari sana kita bisa melangkah ke RW, Kelurahan dan seterusnya.

Anak tidak hanya mendapat data, tetapi juga informasi menarik lain. Misalnya, Pak RT bisa bekerja dengan bersarung, Pak RW bercelana pendek, sementara Pak Lurah dan Pak Camat harus berseragam.

Dengan data itu, anak belajar membuat buku teksnya sendiri. Ini tentu lebih menarik daripada buku PPKN, PKN atau PMP yang cenderung membosankan dan tidak membuka pikiran.

06
Jan
08

Bu Timbul

Keluarga Bu Timbul dianggap paling tak berdaya di lingkungan kami. Suaminya sudah pensiun, dan sekarang menjadi penagih iuran warga di lingkungan RT kami. Konon, Bu Timbul melarang Pak Timbul menjadi satpam di RT kami. Maka Pak Timbul pun bekerja sebagai satpam di RT sebelah. Entah kenapa.

Secara sosial Bu Timbul terlihat tidak berdaya, tapi secara politik punya kekuatan besar. Ya, Bu Timbul adalah silent politician. Selama bertahun-tahun dia menjadi pengurus PKK. Tak tergantikan. Bu Timbul tidak sepenuhnya salah, karena iklim mendukung dia tetap di sana. Mungkin ibu lain memang males berhubungan dengan kelurahan, mungkin juga mereka menganggap PKK gak penting, mungkin juga karena memang tidak ada sosialiasi tentang fungsi PKK.

Kedudukan Bu Timbul makin kuat, karena mendapat restu dari istri RW, yang tidak mau pusing dengan urusan PKK –karena sudah sibuk dengan warung dan kantornya. Bu RW menyerahkan segala urusan PKK kepada Bu Timbul, termasuk juga ‘mengutus” Bu Timbul untuk mewakili dirinya pada arisan RW. Royalti untuk Bu Timbul berupa perolehan uang arisan. Artinya, bila setelah dikocok keluar nama Bu RW, maka itu akan menjadi milik Bu Timbul.

Yah mungkin Bu RW bertujuan amal. Tapi dia tak sadar telah membuka peluang bagi Bu Timbul untuk membenarkan langkah-langkahnya.

Bu dan Pak Timbul bisa membuatkan kartu keluarga untuk warga tanpa melalui RT. Soal laporan tentang kegiatan dan keuangan PKK, ke laut aja deh.

Yang lucu, suatu malam, di acara arisan gabungan bapak-bapak dan ibu-ibu, Bu Timbul dengan santai mengumumkan siapa saja penerima bantuan gas dan kompor dari pemerintah. Ada empat nama yang disebut, dan dua di antaranya adalah dia dan anaknya yang tinggal di rumahnya. Mungkin saat itu banyak yang bertanya mengapa Bu Timbul mendapat dua gas, tapi pertanyaan itu ditelan bersama dengan kunyahan sus dan lemper yang disajikan tuan rumah. Kalau nyangkut di kerongkongan, ya langsung didorong dengan teh manis.

Yah, tentu tak pantaslah mempertanyakan jatah warga yang kehidupannya” kurang beruntung”. Apalagi menghadapi Bu Timbul, seorang senior PKK.

Demi harmonisasi warga, maka orang menutup mata bila ada penyimpangan. Kalau kita mencoba menggugat, maka kita akan dianggap aneh.

25
Dec
07

Bu RT tanpa Wajah dan Suara

Istri walikota tidak dipanggil bu walikota, istri gubernur tidak menjadi bu gubernur. Tapi istri RW, jadi Bu RW, dan istri RT jadi Bu RT. Apakah pada pada lembaga pemerintahan terendah perempuan menjadi faceless, tidak bereksistensi dan impersonal? Wallahualam … Sebutan itu tidak hanya berupa kata sapaan yang sudah turun temurun melekat di batang pohon tanjung dan menyatu dengan debu jalanan, tapi juga dikukuhkan secara formal. Seorang istri RT otomotatis adalah ketua PKK di kampungnya.

Sekalipun pemilihan RT masa kini sudah demokratis, tidak begitu halnya dengan organisasi ikutannya, PKK. Untuk organisasi yang terkait dengan perempuan, maka demokratisasi ibarat Istana Negara yang dikurung oleh pagar-pagar yang tak dapat ditembus. O-em-ji (maksudnya, OMG, oh my God), perempuan ibarat rakyat kecil yang tak bisa masuk ke sana. Mereka harus cukup puas bila dibuatkan rumah di luar istana bernama PKK. Sebuah rumah yang tampak indah, tetapi sesungguhnya hampa karena aspirasi perempuan sebagai manusia yang berkehendak tidak menempel pada dinding-dindingnya. Sebuah rumah yang senyap abadi karena penghuninya tak bersuara. Sebuah rumah yang penghuninya harus menutup mata ketika dinding-dinding itu menjadi buram karena ada praktik yang tak transparan.

Mengenai hal ini … hmm … hingga detik ini saya tidak tahu jelas apakah PKK itu. Yang saya tahu, pada hari tertentu di pos RW ada penimbangan bayi. Saya sering bertanya apakah benar warga RT kami memanfaatkannya (sepertinya memang nggak deh, karena mereka rutin ke dokter anak). Apakah hal ini pernah dikaji? Apakah pemberdayaan kesehatan harus melalui program penimbangan bayi? Apakah tidak ada alternatif lain, misalnya membuat pelatihan mengenai kesehatan balita bagi para “mbak”, pengasuh bayi? Banyak ibu muda di RT kami yang bekerja, dan meninggalkan balita mereka pada pengasuh. Nah, saya pikir ini lebih tepat sasaran.

Ketika saya sampaikan hal itu kepada mantan istri RT yang “naik pangkat” menjadi Ketua PKK RW, dia mengatakan akan menjadikannya sebagai catatan untuk disampaikan pada rapat di kelurahan. Mudah-mudahan memang benar suara itu akan disampaikan dan didengar ….

06
Dec
07

10 Dosa Bu RT

Inilah 10 dosa saya:

  1. Tidak hadir pada acara pemilihan RT
  2. Dalam suatu masa jadi ratu bolos arisan
  3. Beberapa kali tidak hadir pada acara-acara penting RT
  4. Tidak pandai memasak, sehingga tidak nimbrung pada acara masak-memasak
  5. Tidak ikut senam, pengajian, atau kumpul-kumpul
  6. Pernah berjanji membuatkan buletin RT, tapi tidak terealisasi
  7. Gak seru diajak ngobrol, karena konon pendiam (ehm)
  8. Suka bete kalau ada yang bergosip
  9. Senangnya di dalam rumah
  10. Tidak hapal nama tetangga
26
Nov
07

Selamat ya …

“Wah jadi RT, ngurusin orang berantem.”

“Rp20rb sekali tandatangan.”

“Hi hi hi.”

“Sekarang gajinya 300rb tuh.”

Komentar-komentar itu muncul ketika suami saya terpilih jadi RT. Komentar yang diucapkan dengan seringai, tawa, atau senyum lebar itu menunjukkan persepsi orang terhadap “jabatan RT”. Coba deh telaah satu per satu komentar di atas, semuanya bernada negatif. Pekerjaan menjadi RT mengandung makna komikal, terkait dengan masalah privat orang lain, dan terkait dengan uang.

Apa boleh buat, tetangga-tetangga sudah memilih, dan suami saya sudah setuju. Saya sih senang bercampur was-was. Saya senang melihat proses demokrasi sudah diupayakan terbentuk dari lembaga pemerintahan terendah. Sebelum pemilihan, ada tim pemilihan pengurus RT yang berkeliling membagikan lembar berisi nama warga yang berhak dipilih, lalu Kartu Suara (tepatnya kertas kecil sih) untuk mengisi nama tiga calon kepala RT. Karena di rumah kami ada tiga orang yang telah berumur di atas 17 tahun (saya, suami saya dan si sulung), kami mendapat tiga Kartu Suara.

Saat mengisi, saya mendiskusikan dengan suami, siapa kira-kira nama yang akan dipilih. Dalam pembicaraan itu tanpa sengaja muncul kriteria “matang”, “punya perhatian”, “punya waktu”. Ada nama yang memenuhi kriteria itu tapi tidak jadi kami tulis mengingat yang bersangkutan sering mules ketika menjadi pengurus RT. Begitu juga, saya urung menulis Pak TT yang murah senyum, karena selama jadi pengurus iuran sampah dia kerap stres kena semprot warga.

Oh ya si sulung tidak diajak diskusi karena dia selalu pergi pagi dan pulang malam selama Kartu Suara itu menginap dua malam di rumah.

Saya langsung mengisi ketiga Kartu Suara itu, karena tahu kebiasaan buruk saya: kalau sudah tertunda, kertas itu bisa tertumpuk di antara lautan berkas di rumah saya. Saya merasa plong dan merasa jadi warga RT yang baik ketika petugas datang, dan saya sudah siap.

Saya berniat datang di acara pemilihan ketua RT, yang berlangsung di lapangan badminton di depan rumah saya. Apa boleh buat, saya pulang malam sehabis suatu kegiatan. Lalu tertidur. Saat bangun, suami saya sudah mengabari bahwa dia yang terpilih (entah karena kriteria apa). Di meja makan saya lihat ada kue-kue, sisa hidangan pada saat pemilihan. Saya merasa malu, sungguh tidak mencerminkan warga yang baik. Mungkin para ibu pun sebal pada saya. Tapi karena suami saya satu paket dengan saya, ya terpaksalah mereka menerima keadaan.

Biarpun RT adalah jabatan ecek-ecek, tapi karena warga yang memilih, terasa jadi beban juga. Saya khawatir, jangan-jangan kami bukannya mengurusi warga yang berantem, tetapi wargalah pusing melihat anak-anak kami bertengkar. Yah, si sulung dan si tengah kami ibarat Tom dan Jerry, namun sayangnya pertengkaran mereka tidak lucu untuk ditonton.Beban yang lain, tidak bisa lagi jadi ratu bolos pada saat arisan ibu-ibu. Bukannya saya tidak suka arisan ibu-ibu, tapi Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga yang kerap menggeser acara arisan itu. Tapi jujur sih, kadang saya males aja.




Categories

Archives

Blog Stats

  • 224 hits

Top Posts

  • None